Penulis: Yasmin Nur Imani, Editor: Aisyah Puan Maharani
Bulan ramadhan kali ini datang kembali untuk menyapa kita sebagai umat muslim, dan seperti biasa kami menyambutnya dengan gembira. Walau kini rasanya sudah berbeda, seperti ada yang mengganjal di dada. Biasanya ketika mendengar atau melihat meme tentang ramadan mulai bertebaran, kami selalu antusias. Tapi berbeda dengan situasi kini karena ada rindu dan tangis yang tertahan. Tahun lalu masih menjalankan puasa bersama bapak. Namun kini Bapak sudah pergi, dan tak lagi  berjumpa dengan puasa kali ini. Biasa berkumpul bersama, kini hanya harus mengunjungi Bapak di tempat tidur terakhirnya, dengan memanjatkan doa agar beliau bahagia di sana. Ada yang berbeda saat suasana menjelang sahur dan berbuka. Karena biasanya terdengar suara Bapak mengajak untuk mengaji bersama, namun kini hanya sunyi yang menyapa. Biasanya Bapak meminta menu berbuka dengan yang manis namun kini mungkin makan seadanya. Semangat Ibu yang selalu  bahagia menjalani bulan puasa kini meredup karena tak lagi ada bapak. Tentunya ada kerinduan yang terpendam dan ada tangis ibu yang akan mewarnai hari-hari di puasa tahun ini. Apa mau dikata semua harus tetap dijalani, sesulit dan sepedih apa pun keadaannya jika diingatkan kehidupan memang hanya singgah sementara, dan kita hanya sedang menunggu giliran, karena semua makhluk Nya sudah mendapat nomor antrian. Saya ingat dulu Bapak menggendong saya ketika masih kecil, beliau berharap puasa saya tamat sampai magrib. Kemudian menghadiahkan sesuatu untuk saya karena sudah menjalani puasa. Mengajak saya untuk berburu takjil, membawa saya untuk shalat berjamaah di masjid, apa pun dilakukan untuk melatih anaknya untuk belajar menjalani bulan ramadhan. Teringat ketika lebaran tiba, Bapak yang paling  antusias membelikan kami baju baru untuk keluarganya. Namun kini peran itu tergantikan oleh kakak sulung. Kami selalu bangga pada Bapak yang selalu ada untuk Ibu. Membuatnya bahagia, dan tersenyum di hari harinya walaupun ibu ada nangisnya. Entahlah, tidak akan ada orang yang bisa siap dengan kehilangan, pun bagi Ibu. Beliau harus kehilangan belahan jiwanya. Sementara saya dan kakak saya harus kehilangan sosok pemimpin keluarga dan penunjuk jalan kami. Serta nasihat-nasihat bapak yang selalu saya rindukan. Doa adalah satu-satunya cara menyayangi dan memeluk mereka yang telah tiada, dari kejauhan. Kehidupan yang sudah berlainan, tak ada satuan jarak tempuh. Tak ada alamat untuk dituju, selain gundukan tanah. Tak lagi ada canda tawa Bapak dan Ibu, tak ada pula perdebatan baju lebaran. Bagi siapapun yang tahun ini harus puasa tanpa sosok yang paling kita sayangi. Sabar mungkin sudah muak kita dengar, saya hanya ingin berkata hidup masih harus tetap berjalan, dan jagalah yang kini ada. Karena kita tak pernah tahu kapan kita atau mereka akan pergi dari kehidupan. Jangan ada penyesalan setelah kehilangan, bahagiakan mereka semampunya. Fase terberat untuk dijalani, fase menyakitkan untuk dilalui. Tapi ketetapan memang haruslah terjadi. Takdir tak bisa diusir, kematian adalah bagian akhir. Awal baru penuh haru. Semoga mereka yang tiada diberikan ampunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *