Penulis: Turhamun, Editor: Aisyah Puan Maharani

Ramdahan tahun 1445 H / 2024 M sudah masuk pekan pertama dengan penuh khidmat. Jika di potret ke belakang atau awal Ramadhan banyak aktivitas penyambutan diberbagai Masjid tiap daerah. Sebagian dengan doa bersama atau selamatan (Jawa), ada pula yang dirangkai dengan akhirussanah berupa khataman, ada pula yang diawali dengan pawai obor atau sholawat dan lain sebagainya. Demikan itu tentu bagian dari pwerwujudan ekspresi suka cita umat Islam dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.


Ragamnya cara penyambutan Ramadhan menjadi warna tersendiri sebagai khasanah toleransi internal umat beragama. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi tidak hanya antar agama, karena dalam ekspresi keIndonesiaan sudah kita kenal beberapa istilah tenggang rasa, saling menghormati, tolong-menolong, dan gotong royong. Unik dan membuat takjub bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia sudah dibekali dan diformat untuk berjiwa besar dalam menerima perbedaan, dan ini bisa kita ambil dari inti sari falsafah Mpu Tantular sejak abad ke 14 yang berbunyi “Bhineka TunggaL Ika” yang diartikan berbeda-beda tapi tetap satu jiwa.


Fenomena-fenomena menggelitik lucu juga terjadi jika kita pantau beberapa info di medsos, sebutlah diantaranya fenomena umat non muslim dengan sengaja mau borong takjil, bahkan ada yang sangat menjiwai samapai mengenakan baju muslimah dan berhijab supaya nyaman dan diperbolehkan borong takjil. Menariknya konten ini sengaja dibuat dan diupload, artinya bisa dimaknai dalam perspektif pesan bahwa umat beragma non muslim juga ingin mendapatkan berkah kebahagiaan Ramadhan. Walaupun demikan ini bisa jadi memang hanya konten belaka, namun yang paling penting adalah warna perdamaian dalam gelak tawa yang dibangun merupakan wujud tolernasi yang patut kita apresisasi dalam berbangsa dan bernegara serta mengamalkan ajaran agama sebagai manifestasi ibadah sosial.


Puasa Ramadhan dalam perspektif Quran sebagaimana dijelaskan pada surat Al-Baqarah ayat 183, bertujuan mencapai derajat takwa. Oleh karena itu lahirnya kesadaran diri bahwa Allah selalu hadir bersama hambanya, mengawasi dan melihat semua perbuatan hambanya. Ditambah lagi bahwa kondisi seperti itu pula membuat hambanya merasa dekat dengan Allah. Mengingat bahwa takwa sebagai sebuah capaian drajat penghambaan terrtinggi kepada Alloh, maka sudah semestinya energi asmaul husna paling tidak yaitu rahman dan rahim senantiasa menjiwai siapa saja yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sehingga menjadi inspirasi bagi antar umat beragama untuk saling mengasihi dan menyayangi sebagai sebuah ujung perdaban keimanan kepada Tuhannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *