Penulis: Afif Afkari, Editor: Aisyah Puan Maharani


Ibadah puasa ramadhan 1444 H ini merupakan lahan bagi umat Islam untuk melatih dan meningkatkan kesadaran serta ketaatan beragama. Puasa apabila dilakukan dengan syarat dan rukunnya yang akan mempunyai faedah yang sangat besar bagi diri kita yaitu kesehatan secara jasmani dan bertambahnya tingkat ketaqwaan kita kepada Allah. Adapun arti puasa menurut terminologi agama ialah “menahan diri dari makan, minum, dan perbuatan yang membatalkan puasa semenjak waktu terbit fajar sampai waktu terbenam matahari dengan niat ikhlas dan mengharapkan keridhaan Allah. Perintah puasa juga terdapat dalam surat QS. Al-Baqarah 183 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.


Namun Bulan Ramadhan ini bisa dijadikan momentum pemulihan pertumbuhan ekonomi khususnya yg ada dinegara Indonesia, karena dari banyaknya penduduk di Indonesia ini mayoritas sebagai umat muslim, maka dari itu banyak nya umat muslim ini memanfaatkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya dengan berbagai cara. Dilihat dari data empirik setiap Ramadhan, mengingat ditahun1997/1998 termasuk saat terjadi krisis ekonomi tetap terjadi peningkatan permintaan konsumsi masyarakat. Hal ini akan mendukung ekspansi dan pertumbuhan ekonomi. Menurut Prof Edy, dorongan kenaikan permintaan itu terjadi karena pada saat Ramadhan spirit beribadah tinggi, sehingga mereka yang berpunya mengalokasikan zakat, infak, dan sedekahnya bagi kaum duafa, mustadafin, atau orang miskin yang jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 27 juta sebagai akibat Covid-19 “Ini merupakan transfer dari si kaya ke si miskin, yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, karena kaum miskin cenderung membelanjakan untuk kebutuhan pokok, dan itu buatan dalam negeri,” ujar Prof Edy. Proses pemulihan ekonomi kita sedang berlangsung, kita harus optimis bahwa ekonomi akan membaik. Harus terbangun sinergi kebijakan antara pemerintah, BI, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), perbankan dan dunia usaha, papar Ketua Umum Pengurus Pusat KAFEGAMA itu. Terlebih lagi, momen Lebaran tahun ini sudah tidak ada PPKM, artinya mobilitas masyarakat sudah jauh bergeliat serta restriksi di daerah-daerah juga sudah jauh berkurang sehingga memberikan dampak pemulihan ekonomi yang lebih besar, Sebagai gambaran Bank Indonesia (BI) telah mulai melakukan front loading uang tunai senilai Rp 197,6 triliun untuk periode Ramadan dan Idul Fitri 2024. Jumlah tersebut meningkat 4,65%, bila dibandingkan dengan realisasi peredaran uang pada Ramadan dan Idul Fitri 2023 yang sekitar Rp 189 triliun. Meski meningkat, tetapi pertumbuhan uang tunai pada periode Ramadan dan Idul Fitri pada tahun ini lebih rendah dari realisasi pertumbuhan tahun lalu yang sebesar 4,8% year on year (YoY). Deputi Gubernur BI Doni P. Joewono mengungkapkan, perlambatan pertumbuhan tersebut seiring dengan akseptasi digital yang juga meningkat. Jadi, untuk persentase peningkatan tersebut memang sudah kami perkirakan. Kami pertimbangkan, jadi kenaikan uang yang disiapkan pada tahun ini naik sekitar 4,65% ujar doni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *