Penulis: Anisa Cahyawiru Khasanah, Editor: Aisyah Puan Maharani

Bagi umat muslim, Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Bulan yang penuh ampunan, dimana setiap pahala ibadah dilipatgandakan oleh Allah SWT. Ketika datangnya bulan Ramadhan, umat muslim menyambutnya dengan penuh suka cita dan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik seacara lahir maupun batin.

Momentum bulan puasa ini tak hanya dinanti umat muslim, namun ditunggu pula oleh para pelaku ekonomi. Dikarenakan saat bulan Ramadhan hingga menjelang mudik lebaran, ekonomi berputar lebih cepat disbanding bulan bulan biasanya.

Banyaknya jajanan ketika bulan Ramadhan merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang semakin berkembang. Tidak heran jika kondisi perekonomian akan meningkat di bulan Ramadhan. Bagi masyarakat, hal ini menjadi peluang untuk menambah penghasilan. Tidak sedikit yang menjadi penjual dadakan, seakan tidak mau melewatkan kesempatan ini untuk menambah uang saku di kalangan pelajar ataupun mahasiswa bahkan Masyarakat umum.

Hal ini berdampak pada industri makanan, khususnya skala mikro dan kecil. Kondisi tersebut dapat dilihat dari aktivitas yang terjadi di sejumlah pertokoan juga pasar tradisional, transaksi yang meningkat secara signifikan. Aktivitas di bulan Ramadhan sampai menjelang lebaran berdampak positif, namun juga berdampak negatif khususnya inflasi.

Pergerakan ekonomi Ramadhan tak hanya berefek pada makanan dan minuman, namun juga berefek gulir ke berbagai sektor, mulai barang kebutuhan pokok, jasa, transportasi, pariwisata sampai manufaktur. Konsumsi dan mobilitas Masyarakat juga meningkat, terlebih setalah Tunjangan Hari Raya (THR) keluar.

Di sisi finansial, Ramadhan membawa keberkahan tersendiri bagi fakir miskin. Pada bulan ini seorang muslim sangat digalakkan dan disunnah untuk berinfak dan bersedekah di bulan Ramadhan kepada mereka. Bahkan diwajibkan membayar zakat fitrah untuk diserahkan kepada golongan yang berhak menerima.

Agar dorongan belanja Masyarakat bisa lebih mantap, tugas pemerintah menjaga pasokan barang lancar jaya sehingga barang kebutuhan Masyarakat masih bisa terjangkau daya beli, minimal tidak naik tinggi. Dengan cara ini, efek gulir perputaran uang yang besar selama Ramadhan dan lebaran bisa lebih terasa ke perokonomian. Namun juga tidak menyumbang inflasi besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *