Penulis: Nurul Fazriyanti Aulia Dewi, Editor: Siti Sihatussalamah

Telah kita ketahui bahwa di bulan Maret 2024 adalah bulan Ramadhan tahun 1445 H. Awal Ramadhan ini menandai permulaan ibadah puasa 2024 antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diperkirakan akan berbeda. Menurut peneliti dari Kementerian Agama Republik Indonesia. Suhanah, penyebab perbedaan penetapan awal Ramadan dapat dilihat dari aspek metodenya. Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode rukyat yaitu dengan mengamati hilal secara langsung sedangkan Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan).

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Lembaga Falakiyah yaitu KH Sirril Wafa menyatakan, pihaknya melakukan perhitungan awal Ramadhan 1445 H dengan mengamati posisi hilal baik dari ketinggian maupun elogasinya. Berdasarkan hal tersebut hilal rukyat 1 ramadhan yang dilakukan  pada tanggal 10 maret 2024 atau 29 Sya’ban 1445 H tidak dapat dilihat. Oleh karena itu, Lembaga Falakiyah PBNU memperkirakan bahwa 1 Ramadhan tahun 1445 H, jatuh pada Selasa 12 Maret 2024.

Sedangkan pendapat Pakar Falak Muhammadiyah yaitu Oman Fathurrahman mengatakan, ada beberapa ayat Al-Qur’an mengandung kata kunci hisab yang artinya perhitungan. Misalnya Qur’an Surat Ar-Rahman ayat 5 yang artinya matahari dan bulan (berputar) menurut perhitungan. Jadi Penetapan awal bulan itu bisa dengan hisab dengan perhitungan. Kalau kita memahami bahwa bulan dan matahari beredar menurut perhitungan, maka kita bisa memprediksi, mengukur, menentukan dengan pasti, dengan akurat.

Muhammadiyah menentukan hari pertama Ramadhan dengan menggunakan metode perhitungan. Pengurus Pusat Muhammadiyah mengumumkan bahwa pada hari Minggu tanggal 10 Maret 2024, hilal akan berada di atas ufuk (bulan sudah muncul) di Indonesia, kecuali Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua Barat Daya. Berdasarkan hal tersebut Hasil perhitungan tersebut, pimpinan “Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah memutuskan bahwa tanggal 1 Ramadhan 1445 H akan jatuh pada hari Senin tanggal 11 Maret 2024 Masehi.

Dalam hal ini kita harus menerapkan Manajemen Risiko agar tidak terjadi perselisihan antara muhamadiyah dan NU karena perbedaan pendapat yaitu dengan saling menghargai pendapat masing-masing dan tidak saling menjatuhkan satu sama lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *