Penulis: Mutia Romadani , Editor: Icha Nurrohmah


Kata Hisab sendiri didalam Al-Qur’an terdapat dalam surah Yunus ayat 5 yang artinya, “Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia-lah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Hisab Hakiki merupakan metode penentuan awal bulan qamariah yang dilakukan denga cara menghitung gerak factual (sesungguhnya) bulan di langit, sehingga awal dan berakhirnya bulan qamariah ini mengacu pada kedudukan atau perjalanan bulan sebagai benda langit tersebut. Hisab Hakiki merupakan metode hisab yang bepatokan pada gerak benda langit, khususnya yaitu Matahari dan Bulan factual (sesungguhnya). Gerak dan posisi Bulan dalam metode ini dihitung secara cermat untuk mendapatka gerak dan posisi Bulan yang sebenarnya dan setepat-tepatnya sebagaimana adanya. Sedangkan “Wujudul-Hilal” sendiri merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pada saat Matahari terbenam, Bulan terbenam. Dengan kata lain, Bulan terbenam terlambat dari terbenamnya Matahari berapa pun selisih waktnya. Dengan istilah geometric, pada saat Matahari terbenam posisi Bulan masih diatas ufuk berpapaun tingginya.


Dalam buku Pedoman Hisab Muhammadiyah juga dijelaskan bahwa dengan Hisab Hakiki Wujudul Hilal, bulan kamariah baru dimulai apabila pada hari ke-29 berjalan saat matahari terbenam terpenuhi 3 syarat yaitu, 1) telah terjadi ijtimak, 2) ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam, dan 3) pada saat matahari terbenam Bulan (piringan atasnya) masih di ufuk. Jika salah satu kriteria tersebut tidak dipenuhi, maka bulan berjalan digenapkan tiga puluh hari dan bulan baru dimulai lusa. Bagi Muhammadiyah, jika posisi bulan sudah berada di atas ufuk (pada saat terbenam Matahari diseluruh Indonesia), seberapapun tingginya (meskipun 0,1 derajat), maka esoknya adalah hari pertama bulan baru.


Untuk hasil Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam menentukan awal Ramadhan 1445 H / 2024, yang merupakan lampiran dari Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah di dasarkan pada “Hisab Hakiki” dengan kriteria “Wujudul-Hilal”. Hasil dari perhitungan tersebut, khususnya mengenai terbenamnya matahari dan tinggi bulan menggunakan marjak Yogyakarta dengan koordinat: (φ = -07⁰ 48’ LS dan λ = 110⁰ 21’ BT) = +00⁰ 56’ 28” (hilal sudah wujud). Pada saat Matahari terbenam, Ahad 10 Maret 2024 M, di wilayah Indonesia Bulan beraa di atas ufuk (hilal sudah wujud) kecuali di wilayah Maluku Utara, Papua, Papua Barat, dan Papua Barat Daya. Sehingga wilayah Indonesia tanggal 1 Ramadhan 1445 H jatuh pada hari Senin Pahing, 11 Maret 2024.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *