CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), quality = 82

Penulis: Fatimah Al Zahrah Sabrina, Editor: Aisyah Puan Maharani


Ekonomi syariah merupakan suatu system ekonomi yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam, yang bersumber dari Al-qur’an dan Sunah. Dalam Bahasa Arab ekonomi syariah diistilahkan dengan al-Iqqtishad, secara Bahasa berarti al-qashu yaitu pertengahan dan berkeadilan. Terdapat pengertian lain tentang Ekonomi Syariah berdasarkan Para Ahli, yakni:

  1. Ekonomi Syariah adalah cabang pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui alokasi dan distribusi sumber daya yang langka yang seirama dengan maqashid, tanpa mengekang kebebasan individu untuk menciptakan keseimbangan ekonomi makro dan ekologi yang berkesinambungan (M.Umer Chapra, 2001).
  2. Ekonomi Syariah adalah ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalahmasalah ekonomi masyarakat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam (Muhammad Abdul Manan, 1992).
  3. Ekonomi Syariah adalah respon pemikir muslim terhadap tantangan ekonomi pada zamannya. Dalam usaha ini mereka dibantu oleh Al Qur’an dan Sunnah, akal (Ijtihad) dan pengalaman (Muhammad Nejatullah al-Siddiqi, 2004).
  4. Ekonomi Syariah adalah pengetahuan tentang penerapan perintah-perintah (injuctions) dan tata cara (rules) yang ditetapkan syariat untuk mencegah ketidakadilan dalam penggalian dan penggunaan sumber daya material guna memenuhi kebutuhan manusia yang memungkinkan mereka melaksanakan kewajiban kepada Allah dan masyarakat (S.M. Hasanuzzaman (1991) dalam M.Dawam Rahardjo, 2015).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekonomi syariah adalah ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya untuk mencapai kesejahteraan jangka panjang (falah) yang berlandaskan kepada syariat Islam. Ekonomi syariah dapat dimaknai juga sebagai sistem ekonomi yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam. Dari definisi tersebut terlihat bahwa Ekonomi Islam terdiri dari dua bagian :

  1. Pertama adalah yang diistilahkan dengan sekumpulan dasar-dasar yang disimpulkan dari al Qur’an dan As Sunah yang ada hubungannya dengan urusan-urusan ekonomi. Dasar-dasar umum ekonomi tersebut antara lain tercermin dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
  • Bahwa segala cara usaha, pokok asalnya adalah boleh (mubah).
  • Bahwa hasil pekerjaan kembali kepda yang mengerjakannya tidak ada perbedaan dalam hal ini (ekonomi) antara laki-laki dan wanita.
  • Bahwa pemimpin harus dapat mengembalikan distribusi kekayaan dalam masyarakat manakala tidak ada keseimbangan di antara mereka yang dipimpinnya.
  • Bahwa yang haram menganiaya dengan menerjang hak atas orang Islam lainnya.
  • Prinsip-prinsip lainnya dalam al Qur’an dan hadis-hadis yang bersifat membatasi motif-motif ekonomi pelaku ekonomi seperti Larangan menghasilkan harta dengan jalan yang batil, larangan menimbun harta tanpa ada manfaat bagi manusia, dan larangan melampaui batas.
  1. Kedua yaitu yang diistilahkan dengan “Bangunan perekonomian yang didirikan di atas landasan dasar-dasar tersebut sesuai dengan tiap lingkungan dan masa”. Maksud dari istilah tersebut adalah cara-cara penyesuaian atau pemecahan masalah ekonomi yang dapat dicapai oleh para ahli dalam negara Islam, sebagai pelaksanaan dari prinsip al Qur’an dan Sunah.

Perkembangan Islam di bidang ekonomi akan diwarnai oleh tiga faktor yaitu pertama, perkembangan kajian teologi dan diskursus pembaharuan yang memperkenalkan nilai-nilai Islam yang bisa menjadi dasar etos kerja dan etos kewiraswastaan Islam. Kedua, keberhasilan usaha kecil, usaha rumah tangga dan sektor informal yang merupakan basis perekonomian kaum muslim. Sementara di lain pihak berkembangnya usaha kaum muslim di sektor modern berskala besar. Ketiga, berkembangnya dan keberhasilan eksprimen sistem ekonomi Islam, terutama bidang keuangan. Ekonomi Islam memiliki sifat dasar sebagai ekonomi Rabbani dan Insani.


Disebut ekonomi Rabbani karena sarat dengan arahan dan nilai-nilai Ilahiah. Lalu Ekonomi Islam dikatakan memiliki dasar sebagai ekonomi insani karena system ekonomi ini dilaksanakan dan ditujukan untuk kemakmuran manusia. Keimanan berpegang penting dalam ekonomi Islam, karena secara langsung akan mempengaruhi cara pandang dalam membentuk kepribadian, perilaku, selera dan preferensi manusia, sikap-sikap terhadap manusia, sumber daya dan lingkungan. Nilai-nilai keimanan inilah yang kemudian menjadi aturan yang mengikat. Dengan mengacu kepada aturan Ilahiah, setiap perbuatan manusia mempunyai moral dan ibadah. Setiap tindakan manusia tidak boleh lepas dari nilai, yang secara vertical merefleksi moral yang baik dan secara horizontal memberi manfaat bagi manusia dan makhluk lain.


Dalam perekonomian, semakin cepat uang berputar akan semakin baik tingkat ekonominya. Dalam kerangka pikir inilah, Islam menganjurkan qard dan sedekah yang secara makro akan mempercepat perputaran uang dalam perekonomian. Pada dasarnya, dalam Islam uang adalah barang publik, sedangkan capital adalah barang pribadi. Money adalah milik masyarakat. Karenanya penimbunan uang (dibiarkan tidak produktif) berarti mengurangi jumlah uang yang beredar. Bila diibaratkan darah, perekonomian akan kekurangan darah alias kelesuan ekonomi alias stagnasi. Itu pula hikmah dilarangnya menimbun uang


Syafi’i Antonio mengatakan keunggulan ekonomi Islam terdapat dalam beberapa hal, yaitu ;

  1. Perekonomian masyarakat luas, bukan hanya masyarakat muslim, akan menjadi bila menggunakan kerangka kerja atau acuan norma-norma Islami. Islam juga mendorong penganutnya berjuang untuk mendapatkan materi/harta dengan berbagai cara, asalkan mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan.
  2. Keadilan dan persaudaraan menyeluruh; Islam bertujuan untuk membentuk masyarakat dengan tatanan sosial yang solid. Dalam tatanan ini, setiap individu diikat oleh persaudaraan dan kasih sayang bagai satu keluarga. Sebuah persaudaraan dan kasih sayang dan tak diikat batas geografis. Keadilan dalam Islam memiliki implikasi sebagai berikut :
  3. Keadilan sosial. Islam menganggap umat manusia sebagai suatu derajat. Maka, semua anggota keluarga ini mempunyai derajat yang sama di hadapan Allah.
  4. Keadilan ekonomi. Konsep persaudaraan dan perlakuan yang sama bagi setiap individu dalam masyarakat dan di hadapan hukum yang harus diimbangi dengan keadilan ekonomi. Tanpa pengimbangan tersebut, keadilan sosial kehilangan makna.
  5. Keadilan Distribusi Pendapatan; Kesenjangan pendapatan dan kekayaan alam yang dalam masyarakat berlawanan dengan semangat serta komitmen Islam terhadap persaudaraan dan keadilan sosial-ekonomi. Kesenjangan harus di atasi dengan menggunakan cara yang ditekankan Islam. Di antaranya adalah dengan : Menghapuskan monopoli, kecuali oleh pemerintah untuk bidang-bidang tertentu; menjamin hak dan kesempatan semua pihak untuk aktif dalam proses ekonomi, baik produksi, distribusi, sirkulasi maupun konsumsi; menjamin basic needs fulfillment (pemenuhan kebutuhan dasar hidup) setiap anggota masyarakat; melaksanakan amanah At takaaful al Ijtimai atau social economic security insurance di mana yang mampu menanggung dan membantu yang tidak mampu.
  6. Kebebasan Individu dalam Konteks Kesejahteraan Sosial; Pilar terpenting dalam keyakinan seorang muslim adalah kepercayaan bahwa manusia diciptakan Allah. Konsep Islam amat jelas, manusia dilahirkan merdeka. Maka, tidak ada seorang pun-bahkan negara manapun-yang berhak mencabut kemerdekaan tersebut dan membuat hidup manusia menjadi terikat.

 

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Menjalankan ekonomi secara Islam merupakan sebuah bentuk menjalankan ajaran Islam secara kaffah. Sebuah aktifitas ekonomi yang tidak hanya kepada hubungan sesama manusia (muamalah) tetapi juga kaitannya hubungan antara manusia dengan sang pencipta. Maka dengan berekonomi secara Islam sebuah perimbangan tersebut dapat diwujudkan. Dengan demikian dengan berekonomi, masyarakat dapat beribadah kepada Allah. Maka sangatlah ironi apabila masyarakat bahkan ilmuwan muslim jika mereka langsung menerima begitu saja ilmu ekonomi konvensional tanpa menfilter terlebih dahulu. Ekonomi konvensional yang mengesampingkan nilai-nilai normatif tentunya bukan menjadi pilihan berfikir dan bekerja para masyarakat dan ekonom muslim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *