Penulis: Yohana Novitasari, Editor: Aisyah Puan Maharani


Al-qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril yang diturunkan secara berangsur-angsur yang mana tujuannya untuk huddan linnasi atau sebagai petunjuk manusia menuju jalan yang lurus atau shiratal mustaqim. Namun banyak umat muslim takut untuk mempelajarinya. Bahkan berkecil hati untuk mendekati Al-qur’an ataupun mempelajari dan memahami apa isi kandungan didalam Al-qur’an. Maka dari itu terbitlah Mushaf Al-qur’an Tadabbur Maiyah Padhangmbulan yang dituliskan oleh kakak beradik yaitu Ahmad Fuad Effendi dan Muhammad Ainun Najib atau akrab dipanggil Cak Nun. Dalam mushaf ini beliau menjadikan Al-qur’an sebagai kalam Allah untuk merenungi setelah apa yang telah dipahami untuk menjadikannya sebagai amalan pada dirinya sendiri dan mewujudkan sikap Akhlakul Karimah disetiap individu dari muslim.

Termasuk dalam penerapan khalifah dimuka bumi. Dengan kata khalifah seakan manusia menjadi seorang yang sangat berharga dimuka bumi ini. Bagaimana tidak, Allah menciptakan manusia untuk menjaga dan memelihara semesta alam yang telah diciptakan-Nya. Namun perkembangan zaman menjadikan pola pikir dan kebiasaan manusia atau seorang khalifah ini menjadi berubah Sebagian dari mereka. NKRI yang dibentuk dengan banyak harapan dalam persatuan dan kesatuannya dapat terpecah belah apabila tidak dapat dikanalisasi dalam prinsip dasar yaitu pancasila .

Melihat perkemabangan zaman yang semakin modern, dan generasi muda sudah memasuki zona 5.0. semakin banyak versi umat islam dalam menyiarkan agama Islam, bahkan dengan cara apapun akan dilakukan. Menyebabkan kata khalifah yang ada dalam Q.S Al-Baqarah:30 bukan menjadi penerus dalam penyebaran agama Islam sesuai ajaran Al-Qur’an dan Hadist, melainkam menjadi ancaman bagi sebuah negara yang berusaha mempertahankan kebenaran masing masing dari setiap kepercayaan agama dan mempertahankan sistem khilafah.

 

Dalam surat ini, inni ja’ilu fil ardhi khalifah, bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini. Bagaimana sejarahnya sehingga ayat ini menjelaskan bahwa khalifah sebagai ancaman sebuah negara? Apakah pemimpin yang salah dalam penyampaian metode? Atau salah dalam melakukan metode tabligh nya? Lantas, bagaimana dengan segala yang telah terjadi? Islam yang dipandang kurang baik, bahkan beberapa muslim dipandangan melakukan radikal dalam penyampaiannya.

Makna khalifah dalam tafsir bisa dijelaskan sebagai diteruskan, diganti, dan diwakili. Yang mana mencakup atas tugas seorang khalifah adalah sebagai penegak tauhid, menjalankan syariat Alllah. Namun arti “Syariat” mungkin juga menjadi salah satu pemicu adanya pertentangan antara Islam dengan negara itu. Beberapa dari duta Islam menjelaskan arti “Syariat” dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan ubudiyah, atau rukun Islam . Tidak diuraikan bahwa syariat juga mencakup atas kelestarian alam dan menjaga lingkungan dengan baik dan benar. Hal demikian dapat merubah wajah Islam yang identik dengan toeransi, damai dan ramah menjadi wajah lain yang sangar, kaku, dan bengis.

Ahmad Fuad Effendy mengatakan dalam Mushaf Tadabbur Maiyyah Padhangmbulan bahwasanya, Khalifah berarti mewakili, pengganti, dan mejalankan syariat-Nya. Dalam arti umum bahwasanya, manusia adalah wakil Allah dimuka bumi. Mewakili bukan beratiketiadaan atau ketidakmampuan Allah , tapi karena ada penugasan terhadap yang diwakili . Yang tidak lain tugasnya adalah menjalankan syariat Allah dengan cara yang baik. Kelanjutan dari penciptaan manusia, qolu a taj’alu fiha mayyufsidu fiha wa yasfikud-dima’, para malaikat bertanya kepada Allah, mengapa Ia menciptakan Khalifah yang mana hanya sebagai perusak atau bahkan melakukan pertumpahan darah.

Dalam tafsiran inni ja’ilu fil ardhi khalifah, mengatakan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah, yang mana Allah memberikannya penugasan terhadapnya. Jawaban dari pertanyaan para Malaikat, bahwasanya manusia sudah diberi akal pikiran yang dibutuhkan dalam mengemban amanahnya, yang menjadikan manusia lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain. Maka terlalu buruk bagi manusia yang tidak menjalankan amanahnya dengan baik dan benar. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa, seorang Khalifah harus bisa menggerakan umatnya dalam ajaran islam dengan seimbang, antara dunia dan akhiratnya.

Seperti layaknya Indonesia sebagai negara hukum yang mempunyai peraturan atas warga negaranya. Apakah kita sebagai seorang muslim yang baik, pantas dalam merubah peraturan itu seenaknya?. setiap negara punya wewenang masing masing dalam mengatur warganya. Dan sebuah negara telah memberi kebebasan terhadap warganya dalam beragama, maka jadikan sebuah negara wadah untuk menyebarkankan agamanya, dengan toleransi antar agama, agar terciptanya ukhuwah yang baik antar umat beragama.

Maka dapat dipahami bahwa, setiap kehidupan bernegara bersifat pluralistik dan multikultralisme, yang mana mempunyai banyak agama dan keanekaragaman dalam adat istiadatnya. Dan menjadikan hukum sebagai pusat pengendalian komunikasi antar individu, menurut Winner. Maka sebgaai seorang khalifah harusnya membawa Islam dengan memperluaskan, memperdalam, memperlembut, menyeimbangkan, dan memperuntuhkan pengenalannya tentang Islam, sedangkan apparat negara menginisiatifkan atas proses, pola dan pembelajaran agama termasuk Islam. Maka tidak akan terjadi pertentangan antara agama dengan sebuah negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *