Penulis: Turhamun, Editor: Heri Purnomo

Ekstremisme diartikan melangkahi batas teritori sendiri dan memasuki batas atau teritori orang atau kelompok lain. Oleh karenanya jika demikian itu dilakukan maka akan membuat kegaduhan atau ketersinggungan bagi orang lain, dan bisa menuju konflik yang berujung pada perseteruan. Melalui sudut pandang komunikasi, yaitu teori Tindakan Sosial Max Weber memberikan uraian tentang tindakan sosial individu. Teori ini menyebutkan bahwa tindakan sosial merupakan tindakan individu yang memiliki makna bagi dirinya sendiri serta ditujukan kepada orang lain. Sehingga tidak ada tindakan yang bebas nilai dalam kacamata sosial, semua akan saling berdampak dan mempengaruhi. Sebagai contoh tindakan bulliying yang lumayan merebak dan di up dimedsos belakangan ini. Baik itu terjadi dilingkungan lembaga pendidikan maupun lingkungan sosial pada umumnya. Demikian ini bisa saja terjadi di satu wilayah dan merebak ke wilayah lain ibarat penyakit yang menular. Alih-alih tindkan ini bisa diminimalisir melalui edukasi di sekolah, pesantren dan lingkungan keluarga ternyata justru bermunculan diberbagai wilayah lain kasus-kasus bulliying serupa.


Sebab demikian elok rasanya jika kita mengapresisasi secara terbuka gagsan perdamaian yang dilakukan oleh Kementrian Agama yang bertepatan dengan momentum Ramadhan tahun ini dengan tagline PeaceSantren. Inovasi kegiatan ini dilakukan di lima pesantren yaitu: Pesantren Az ziyadah Jakarta Timur pada Sabtu, 16 Maret 2024, Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang pada rabu, 20 Maret 2024, Pesantren Al Musaddadiyah Garut, pada sabtu 23 Maret 2024, Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta pada Rabu 27 Maret 2024, dan Pesantren Raudhlatut Thalibin Rembang pada Sabtu, 30 Maret 2024.


Mengutip pernyataan Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki bahwa kegiatan Peacesantren merupakan bentuk penyampaian pesan damai dari pesantren, menurutnya selama ini pesantren adalah sebuah entitas yang menjujung perdamaian, inilah mengapa para santri sangat mencintai perdamaian dan karenanya santri tidak mudah marah. Pada laman liputan6.com juga terpantau ketegasan Ali Ramdhani selaku Dirjen Pendis yang menyatakan bahwa kemenag akan terus menggaungkan pesan perdamaian dan semangat persaudaraan bersama ribuan santri. Hal ini mengingatkan kita pada Q.S al Anfal ayat 9 yang artinya “(Akan tetapi), jika mereka condong pada perdamaian, condonglah engkau (Nabi Muhammad) padanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya hanya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”


Apa yang dilakukan kemenag merupakan langkah konkret pengawalan sejak dini terhadap generasi muda pesantren, agar menjadi icon perdamaian secara mendunia tentunya. Bukanlah suatu yang berlebihan demikian ini dinyatakan, karena pesantren tidak hanya ada di Indonesia tapi sudah berkembang ke berbagai negara dengan ciri khasnya masing-masing. Seperti halnya di negara timur tengah, Yaman, Iran, Maroko dan lain-lain.
Di dunia ini saya rasa tidak ada individu maupun kelompok yang tidak menginginkan perdamaian, hanya saja sering kali kita salah kaprah dalam mewujudkan langkah konkret untuk perdamaian. Dalam kontek keIndonesiaan kita bisa bisa mengikuti langkah kemenag dalam konsep moderasi beragama, dimana sebagai seorang hamba ataupun warga negara senantiasa berpegang pada prinsip nilai komitmen kebangsaan, anti kekerasan, sikap toleransi dan penerimaan terhadap tradisi lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *