Penulis: Imel Nurul Saputri, Editor: Heri Purnomo

Bulan Ramadan adalah bulan suci umat Islam yang dirayakan dengan cara melaksanakan puasa selama satu bulan penuh. Di bulan Ramadhan ini seluruh masyarakat yang beragama IsIam menahan diri dari nafsu dan hal-hal yang membatalkan puasa termasuk makan dan minum.

Sementara dalam perspektif ekonomi, banyak pedagang-pedagang yang memperoleh keuntungan saat memasuki bulan Ramadhan. Bahkan banyak juga masyarakat dan mahasiswa yang menjadi pedagang dadakan dikarenakan keuntungan yang dapat mereka peroleh dari hasil dagangannya. Pada umumnya, mereka berdagang kuliner khas Ramadhan seperti es buah, es campur, kurma, dan takjil lainnya. Lalu adapun yang menjual pakaian muslim, alat shalat, dan sembako.

Ramadhan menjadi sebuah simbiosis mutualisme antara pembeli dan pedagang. Pembeli yang tidak dapat membuat sendiri karena sibuk bekerja bisa membeli takjil sewaktu pulang dari tempat kerja. Sementara disisi lain, para pedagang berhasil meraup keuntungan dari barang dagangannya. Idealnya memang pada bulan Ramadhan umat Islam banyak melakukan ibadah, mengatur atau mengurangi makan dan minum, tetapi pada kenyataannya, justru pada bulan Ramadhan kebutuhan dan konsumsi meningkat. Dampaknya, biaya hidup pun menjadi membengkak. Hal ini juga sebagai dampak kenaikan harga barang yang memang telah menjadi kebiasaan menjelang bulan Ramadhan. Banyak ibu rumah tangga yang mengeluh karena harga- harga kebutuhan pokok naik, sementara konsumsi tidak berkurang bahkan cenderung meningkat karena bulan Ramadhan. Contohnya ketika berbuka puasa atau sahur, para ibu rumah tangga harus menyiapkan menu makanan yang bertambah dan bervariasi untuk menarik selera makan anggota keluarga. Hal ini tentunya membutuhkan biaya yang kebih banyak dibandingkan hari-hari biasanya.

Akan tetapi, dampak negatif yang terjadi pada masyarakat justru menjadi dampak positif bagi para bedagang. Hal ini dapat terjadi dikarenakan sifat borosnya masyarakat dapat meningkatkan pendapatan pedagang. Hal yang sering terjadi di bulan Ramadhan yaitu kenaikan harga-harga barang. Alasan naiknya harga-harga barang ini dikarenakan para pedagang melakukan kecurangan dengan cara menimbun barang-barang yang sering masyarakat beli saat bulan Ramadhan dengan harga yang lebih tinggi. Meningkatnya kebutuhan dan konsumsi masyarakat yang berpuasa dimanfaatkan oleh para pedagang untuk semakin meningkatkan pendapatannya, bahkan jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadhan mereka sudah banyak menyetok barang untuk mengantisipasi kelangkaan. Tingkat belanja dan konsumsi masyarakat akan semakin meningkat menjelang lebaran, bahkan masyarakat bukan hanya disibukkan dengan urusan ta’jil dan buka puasa, tetapi disibukkan juga dengan berbagai pernak-pernik kebutuhan lebaran seperti baju lebaran dan kue lebaran. Oleh karena itu, sangat penting bagi masyarakat mengetahui bagaimana peran para pedagang dan bagaimana dampak positif dan dampak negatif memasuki bulan suci Ramaḍan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *