Selalu saja terlihat senyuman di bibirnya. Wajahnya selalu saja cerah tanpa guratan kesedihan. Kata-kata yang meluncur dari mulutnya selalu saja nyaman didengar, sejuk direnungkan dan menenangkan jika dilaksanakan. Orang sekampung menjulukinya sebagai manusia paling tenang sedunia. Banyak orang sowan kepadanya jika menghadapi masalah. Jawabannya seringkali di luar dugaan, membuat pendengarnya menganggukkan kepala tanda setuju.
Suatu hari, seorang tetangganya datang mengeluhkan tetangga dempet tembok yang mengkhianatinya. Dia menangis meminta solusi bagaimana menyikapinya. Jawabannya singkat dan datar saja, diucapkan sambil tersenyum: “Bersyukurlah kamu dikhianatinya. Itu cara Allah meringankan bebanmu. Kamu tak usah merasa bebean lagi jika tak membantunya. Lebih ringan,bukan?” Tetangganya memikirkan kata itu dan akhirnya mengangguk setuju. Lalu diaenjalani hidup dengan normal tanpa perasaan benci.
Kalau yang konsultasi tadi adalah tetangga sebelah kanannya, kini tetangga sebelah kirinya yang datang bertanya bagaimana cara mensikapi tetangga yang terlalu baik kepadanya, sangat perhatian dan dermawan. Katanya, kadang inienjadi beban baginya jangan-jangan ada udang di balik batu, ada maksud jahat tersembunyi. Beliau dengan senyum berkata: “Bersykurlah mendapat tetangga yang baik. Yang akan datang jangan dipikir negatif sejak sekarang. Syukuri kebaikannya yangvsekarang, doakan semoga istiqamah, insyaAllah akan abadi dalam kebaikan. Kita sama-sama tidak tahu bagaimana esok.” Tetangga kirinya itu menganggung dan pulang dengan damai.
Giliran tetangga depan rumahnya yang datang, menangis trrisak karena uangnya ditilap sahabatnya, tidak dikembalikan hingga kini. Memang lumayan besar jumlahnya. Lelaki paling temang itu bertanya: “Kamu dan keluargamu masih bisa makan?” Dijawabnya dengan anggukan kepala. Beloau lalu dengan tersenyum berkata: “Bersyukurlah. Uangnmu tetap uangmu. Bebannya dipikul oleh temanmu yang menipumu. Nanti uang itu pasti kembali kepadamu. Allah adil. Tenang saja.” Tangisannya mulai mereda dan malam itu dia tidur nyenyak tanpa beban.
Kemudian datang tamu tak dikenal yang menyampaikan tuduhan tak elok pada lelaki paling tenang ini, penilaian-penilaian jelek akan beliau. Marahkah beliau? Beliau cuma tersenyum sambil berkata: “Alhamdulillah, ini pelajaran berharga bagi saya. Kalau tuduhan itu benar, semoga Allah ampuni saya. Kalau tuduhan itu salah, semoga Allah ampuni sang penuduh.” Keadaan lalu hening, damai kembali.
Sahabat dan saudaraku, jangan terlalu dibuat susah hidup kita ini. Selalulah berpikir positif, mengambil sisi yang positif dan bersikap yang positif dalam hidup ini. Sayangnya, kata POSITIF kini banyak berkesan menakutkan, karena pikiran kita kini terlalu fokus pada virus corona. Kita ubah fokus kita pada bagaimana cara menggapai ridla dan surga Allah. InsyaAllah akan lebih menenangkan, dan akhirnya menjadi manusia paling tenang. Bismillah.

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *