Penulis: Muhammad Ash-Shiddiqqy, Editor: Heri Purnomo

Agaknya terlihat aneh bahkan terkesan sarkas ketika mendengar pertayaan ini, tapi ya begitulah adanya, jika yang dimaksud dengan puasa adalah tidak makan, minum, dan melakukan hubungan seksual.
Karena jelas Tuhan tidak membutuhkan hal tersebut. Dan juga benar Tuhan berpuasa, jika yang dimaksud puasa adalah esensi dasar puasa yaitu, menahan diri. Lalu benarkah Tuhan berpuasa?
Menahan diri adalah salah satu kata kunci untuk mendeskripsikan puasa. Saat puasa kita belajar menahan diri untuk tidak makan dan minum, meskipun hal itu halal kita.
Kita juga belajar menahan diri untuk tidak “berhubungan” dengan pasangan, meskipun mereka pasangan sah suami atau istri. Pendek kata, dalam puasa kita belajar untuk mengenal batas. Namun, pertanyaannya, kenapa Tuhan menitahkan demikian?
Jawabannya adalah karena Tuhan memberikan kesempatan pada manusia untuk mencapai sifat-sifat Ilahi. Tuhan memiliki kekuasaan mutlak untuk menghukum orang-orang yang menentang-Nya, bermaksiat pada-Nya, dan tidak menuruti perintah-Nya.
Namun, Tuhan tetap memberikan rezeki berlimpah kepada pendosa dan manusia yang menentang-Nya. Dalam hal ini Tuhan berpuasa, dalam artian menahan diri-Nya untuk menjatuhkan hukuman yang sangat bisa Dia lakukan.
Sebagaimana Tuhan berfirman, Rahmatku mendahului murkaku. Betapa Tuhan telah berpuasa, menahan Diri, untuk tidak serta merta murka atas perilaku makhluk-Nya di muka bumi.
Sebagai khalifatullah fil ardh (wakil Tuhan di muka bumi) tentu manusia dituntut agar bisa bertindak dan berlaku sebagaimana prilaku Tuhan dalam mengatur kehidupan di muka bumi, sehingga melalui perjamuan Ilahi yang bernama puasa.
Tuhan memberikan kesempatan pada manusia untuk sebanyak mungkin menyerap sifat-sifatNya atau meneladani sifat-sifatNya (takhalaqi bi akhlak Allah).
Karena manusia adalah puncak manifestasi Ilahi, hanya manusia yang memiliki potensi untuk menjadi semirip mungkin dengan Ilahi. Menjadi al insan al kamil (manusia sempurna).
Sesuatu yang membuat manusia yang menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifat-sifat dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja yaitu fitrah.
Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (hanif).
Hati nurani adalah pemancar keinginan pada kebaikan, kesucian dan kebenaran. Tujuan hidup manusia ialah kebenaran yang mutlak atau kebenaran yang terakhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *