Penulis: Muhammad Bagus Adi Nugroho, Editor: Aisyah Puan Maharani


Ngabuburit, tradisi menunggu waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Indonesia. Aktivitas ini biasanya diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari berburu takjil, bersantai di taman, hingga berbelanja di pusat perbelanjaan.


Sejarah Singkat Ngabuburit

Tradisi “ngabuburit” sudah ada sejak zaman dahulu, jauh sebelum Indonesia merdeka. Asal kata “ngabuburit” berasal dari bahasa Sunda, yaitu “ngalantung ngadagoan burit” yang berarti “bersantai sambil menunggu waktu sore”. Kata “burit” dalam bahasa Sunda berarti “sore hari”.

 

Awalnya, tradisi ngabuburit di Jawa Barat diisi dengan kegiatan mencari takjil atau makanan berbuka puasa. Biasanya, anak-anak akan membawa kantong plastik atau wadah untuk menampung takjil yang dibagikan di masjid atau mushola.

 

Seiring waktu, tradisi ngabuburit berkembang menjadi lebih beragam. Masyarakat mulai mengisi waktu sore hari di bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan, seperti berburu takjil, olahraga sore atau berbelanja.

 

Namun, sayangnya di balik kemeriahan dan keceriaannya, fenomena “ngabuburit” juga membawa potensi dampak negatif yang perlu diperhatikan. Yuk, simak beberapa di antaranya :

  1. Kemacetan dan Kecelakaan Lalu Lintas

Peningkatan aktivitas “ngabuburit” sering kali memicu kemacetan dan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Volume kendaraan yang meningkat di jalan raya, terutama menjelang waktu berbuka puasa, bisa menyebabkan situasi lalu lintas yang tidak terkendali.

  1. Pengeluaran Boros dan Konsumsi Berlebihan

Suasana Ramadhan dan tradisi “ngabuburit” terkadang mendorong masyarakat untuk membeli dan mengonsumsi makanan secara berlebihan. Hal ini tidak hanya dapat berdampak pada kesehatan, tetapi juga menimbulkan beban keuangan yang tidak perlu.

  1. Sampah dan Pencemaran Lingkungan

Kegiatan “ngabuburit” di tempat-tempat umum sering kali menghasilkan sampah yang berlimpah. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan yang berpotensi merusak ekosistem.

  1. Gangguan Keamanan dan Ketertiban

Di beberapa tempat, terutama di perkotaan, “ngabuburit” dapat memicu gangguan keamanan dan ketertiban, seperti tawuran antar remaja atau aksi kriminalitas lainnya. Hal ini mengganggu ketenangan masyarakat serta menimbulkan rasa tidak aman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *