Satu riwayat, dikisahkan bahwa pada suatu hari di Masjid Nabawi Rasulullah SAW mengumumkan kepada segenap jamaah: “Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga”. Mendengar pengumuman Rasulullah ini, para sahabat menjadi penasaran, mereka bertanya-tanya; siapa gerangan laki-laki tersebut; apakah ia seorang yang paling rajin shalat, apakah ia seorang yang paling rajin puasa, dan ataukah ia seorang yang paling rajin berjihad? Namun demikian, selang tidak begitu lama, masuk lah seoarang laki-laki dari kaum Anshar. Ia berpenampilan biasa-biasa saja; wajahnya masih basah, bekas air wudlu tampak menetes dari jenggotnya, dan tangannya menjinjing sendal. Sungguh tidak ada tanda-tanda istemewa dari penampilan fisiknya. Para sahabat seakan masih ragu, apakah orang ini yang dimaksudkan oleh Rasulullah sebagai penghuni surga? Kenapa tidak tampak istemewa, kenapa biasa-biasa saja?
Rasa penasaran dan pertanyaan dari para sahabat ini belum terjawab, sampai keesokan harinya Rasululllah mengumumkan hal yang sama, dan yang datang adalah laki-laki Anshor tersebut, dengan penampilan yang masih biasa-biasa saja, sebagaimana hari sebelumnya. Kali ini pun para sahabat masih belum yakin, apakah sosok ini yang dimaksudkan oleh Rasulullah sebagai penghuni surga, kira-kira apakah yang istimewa dari orang ini sehingga ia mendapatkan derajat mulia sebagai penghuni surga?
Rasa penasaran para sahabat lagi-lagi belum mendapat jawaban, hingga pada hari yang ketiga Rasulullah kembali mengumumkan hal yang sama; “Akan datang kepada kalian sekarang ini seorang laki-laki penghuni surga”. Kali ini pun yang datang kembali laki-laki Anshor tersebut, berpenampilan biasa-biasa saja; wajah basah, air menetes dari janggutnya, dan tangannya menjinjing sendal. Mengingat tiga hari berturut-turut Rasulullah mengumumkan hal tersebut dan tiga hari itu pula yang datang adalah laki-laki biasa dari kaum Anshar, maka para sahabat menjadi yakin, pastilah orang ini yang dimaksudkan oleh Rasulullah sebagai penghuni surga. Lalu, kira-kira amalan apakah yang dikerjakan orang ini, sehingga oleh Rasulullah berulang-ulang disebut sebagai penghuni surga?
Saking penasarannya, ada seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Amr bin Ash berinisiatif untuk mengulik amalan rahasia apa yang dimiliki oleh laki-laki biasa tersebut. Dengan satu alasan tertentu, kemudian Abdullah bin Amr meminta izin untuk diperbolehkan menginap di rumah laki-laki biasa tersebut selama tiga hari. Begitu diizinkan, benar-benar kesempatan tersebut digunakan oleh Abdullah bin Amr untuk memata-matai kesehari-harian laki-laki biasa tersebut. Hari pertama, sungguh ia tidak mendapati hal yang istimewa. Laki-laki biasa dari Anshar ini beraktivitas sebagaimana layaknya orang biasa; waktunya shalat, shalat, waktunya berkerja, bekerja, dan waktunya tidur, juga tidur. Lalu hari kedua pun sama. Semuanya serba biasa-biasa saja, lagi-lagi tidak ada yang luar biasa dari sosok penghuni surga ini; shalatnya bisa dibilang hanya yang fardhu-fardhu saja, di sepertiga malam juga tidak shalat tahajjud, dan bangun tidurnya pun sudah menjelang waktu shubuh. Demikian ini pula pada hari yang ketiga. Sekali lagi Abdullah bin Amr tidak menemukan satu keistimewaan apa pun dari laki-laki yang mendapatkan derajat mulia ini. semuanya biasa-biasa saja; amalan ibadahnya biasa saja, aktivitas kesehariannya biasa saja, dan penampilan fisiknya juga biasa-biasa saja. Sungguh orang ini adalah orang biasa-biasa saja. Merasa tidak mendapatkan apa-apa, Abdullah bin Amr kemudian mohon pamit, setelah sebelumnya berterus terang tentang maksud dan tujuannya menginap; bahwa semata-mata ia hanya ingin mengetahui amalan apa yang dilakukan, sehingga tuan bisa mendapatkan kedudukan istimewa sebagai penghuni surga. Sambil tersenyum, sosok orang biasa ini pun menjawab: “Aku tidak memiliki amalan apa-apa, selain semua yang telah kamu lihat selama tiga hari ini.” Sembari tidak puas dengan jawaban tersebut, Abdullah bin Amr pun melangkah pulang. Tetapi sosok laki-laki biasa tersebut buru-buru memanggilanya, kemudian menjelaskan: “Benar, amalanku hanya seperti yang kamu lihat, tidak lebih dan tidak kurang, hanya saja, aku tidak pernah berbuat curang kepada seorang pun, baik kepada sesama orang Islam ataupun selainnya, dan aku juga tidak pernah iri ataupun hasad kepada seseorang atas karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.”
Barangkali ini lah potret agama orang biasa, sekali lagi semuanya serba biasa; menjalani hidup layaknya orang biasa dan secara biasa-biasa saja, beribadah secara biasa (tidak terlalu ekstrim), dan beraktivitas sehari-hari juga secara biasa (waktunya bekerja, bekerja, waktunya istirahat, istirahat, dan seterusnya), namun demikian justru oleh Rasulullah orang biasa ini disebut-sebut sebagai penghuni surga. Sungguh sederhana sekali resep hidupnya; ibadah wajib tidak ditinggalkannya dan berbuat baik kepada sesama!
Wallahu A’lam Bish Shawwab!

Penulis Dr. Munawwir, Kaprodi Magister IAT UIN Saizu

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *